Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

BERAU – Persoalan pengelolaan sampah di Kecamatan Pulau Maratua mendapat sorotan dari Anggota Komisi III DPRD Berau, Saga. Ia menilai sebagai salah satu pulau terluar sekaligus destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau, Maratua harus memiliki sistem pengolahan sampah yang profesional dan berkelanjutan.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang tidak tertata dengan baik berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus mengganggu kenyamanan wisatawan yang datang berkunjung.
Padahal, Pulau Maratua selama ini terus dipromosikan sebagai destinasi wisata kelas dunia dengan keindahan laut dan ekosistem bawah laut yang menjadi daya tarik utama.
Saga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kecamatan Pulau Maratua sebenarnya telah menyiapkan lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pengolahan sampah. Namun, menurutnya langkah tersebut belum cukup tanpa adanya kajian teknis yang matang dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.
Ia menilai perlu dilakukan kajian menyeluruh untuk menentukan metode pengolahan sampah yang paling tepat diterapkan di wilayah kepulauan seperti Maratua.
“Pemkab Berau perlu mengkaji ulang lahan tersebut. Metode apa yang akan digunakan harus jelas, agar permasalahan sampah di Pulau Maratua dapat ditangani secara efektif,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menegaskan, promosi pariwisata yang gencar harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas dasar yang memadai. Salah satu yang paling krusial adalah sistem pengelolaan sampah yang mampu menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, tidak seharusnya pemerintah hanya fokus pada peningkatan kunjungan wisatawan tanpa memperhitungkan kesiapan infrastruktur pendukung di kawasan wisata tersebut.
Saga juga mengingatkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Maratua diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kondisi tersebut secara otomatis akan berdampak pada meningkatnya volume sampah yang harus dikelola.
Karena itu, ia menilai diperlukan langkah antisipatif sejak dini agar persoalan sampah tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar di masa mendatang.
“Maka diperlukan penanganan yang baik untuk membatasi peningkatan sampah, baik yang dihasilkan masyarakat maupun wisatawan,” tegasnya.
Selain itu, Saga mendorong agar Pemkab Berau mulai memikirkan pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang representatif di Pulau Maratua. Ia juga menilai perlu adanya dukungan sarana transportasi khusus seperti kapal pengangkut sampah, mengingat kondisi geografis wilayah kepulauan yang memiliki tantangan tersendiri dalam sistem distribusi dan pengelolaan limbah.
Ia menegaskan, upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di kawasan wisata merupakan tanggung jawab bersama, namun pemerintah daerah harus menjadi pihak yang paling aktif dalam menyediakan solusi.
“Pemkab tidak cukup hanya menjual potensi pariwisata Maratua. Daya dukung lingkungan juga harus diperhatikan secara serius,” katanya.
Saga berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar persoalan sampah di Pulau Maratua dapat ditangani secara sistematis dan berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar masalah tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi merusak citra pariwisata Berau di mata wisatawan.
“Itu sudah menjadi tugas pemerintah untuk memikirkan solusi. Jangan sampai persoalan sampah ini dibiarkan berlarut-larut,” tandasnya. (adv)