Berita, Kesehatan, Nasional, Pendidikan, Sosial Politik

Seruan Boikot Starbucks Mendapat Respon Positif Mahasiswa Indonesia

KBN – Medan – Sejumlah masyarakat Indonesia memberikan dukungan dan tanggapan positif terkait seruan untuk memboikot Starbucks setelah mantan CEO Starbucks, Howard Schultz secara terang-terangan mendukung dan mengampanyekan kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Salah satu di antaranya adalah dari Mangaraja Hasibuan yang merupakan mahasiswa berprestasi dari Universitas Sumatera Utara (USU). Ia menyatakan bahwa hal tersebut sangat tepat dilakukan sebagai sikap jelas dan tegas terhadap suatu bentuk pembodohan dan propaganda negatif yang coba dilemparkan ke dalam lingkup masyarakat muda Indonesia. “LGBT jelas merupakan propaganda jahat yang dilakukan asing untuk menghancurkan moral dan kualitas persona bangsa Indonesia. Ketika ada pihak-pihak yang ikut mengendorse agenda jahat tersebut, sudah semestinya perlawanan harus dilakukan.”, ujar Mangaraja (4/7/2017) menjelaskan.

Mangaraja juga menegaskan bahwa LGBT sebagai agenda propaganda asing untuk merusak generasi muda Indonesia bukanlah isapan jempol semata. “Masih banyak yang belum juga paham tentang agenda jahat melalui LGBT. Nilai-nilai luhur kita yang coba dirusak oleh mereka. Tidak ada jalan lain kecuali menguatkan kehidupan berbangsa bernegara yang berdasarkan ajaran agama dan adat istiadat adalah langkah tepat untuk menangkalnya.

Di samping itu, Mangaraja juga beranggapan bahwa pemboikotan Starbucks akan berdampak positif terhadap dunia bisnis kopi lokal di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya kafe atau warung kopi Indonesia jauh lebih baik dari Starbucks. “Ngopi di Starbucks ya hanya supaya gaya saja. Supaya dibilang gaul. Padahal Starbucks menggunakan kopi Indonesia sebagai produk unggulannya. Apa tidak bodoh namanya beli kopi sendiri dengan harga mahal dan bayarnya ke orang asing? Katanya manusia modern tapi telmi (telat mikir).”, jelasnya.

Diketahui bahwa, LGBT dan Komunis merupakan bahaya laten yang belakangan ditengarai mulai berani muncul untuk mengacak-acak kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sangat jelas bahwa kedua hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menomorsatukan nilai-nilai kebenaran menurut Tuhan Yang Maha Esa, karena tidak ada satu agama pun yang membenarkan kesesatan tersebut.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com