Featured, Nasional, Sosial Politik

Sejarah Nagara Purba

 

Oleh: Aris Kurniawan ( Budayawan/ Sejarahwan)

KBN – Bandung – Kebudayaan Sunda merupakan kebudayaan yang berusia tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. Tatar Sunda mulai mengenal aksara pada abad ke-5 M, pada masa Tarumanagara. Kemashuran kebudayaan Sunda di masa lalu tersebut, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan tolak ukur dalam memetakan budaya Sunda. Sejumlah bukti yang ditemukan pada prasasti Kebon Kopi, Ciarunteun, Tugu, dan Jambu yang dituliskan kira-kira pada tahun 450 M, menunjukkan bahwa ciri-ciri tipe Pallawa awal yang dipergunakan di tanah Sunda memiliki hubungan dengan aksara pada berbagai prasasti yang ditemukan di India Selatan dan Sri Lanka (Simhala Dwipa), pada abad 3-5 M.

Sebagai perbandingan, banyak literatur sejarah Tanah Air menyebutkan bahwa aksara pertama kali ditemukan di wilayah negri ini pada sekitar abad ke 4-5 M, berdasarkan prasasti yang ditemukan pada zaman Kerajaan Kutai (wilayah Kalimantan Timur sekarang). Dari dua temuan tersebut, dapat di analisa bahwa awal perkembangan peradaban di Tanah Sunda berlangsung hampir bersamaan dengan perkembangan peradaban di wilayah negri ini. Aksara dalam konteks sejarah ditempatkan sebagai lambang kemajuan adab dan media yang memacu perkembangan peradaban. Selain itu, aksara dijadikan sebagai salah satu dari sejumlah indikator yang membedakan pembagian zaman prasejarah (manusia belum mengenal aksara dan sebelum sejarah di tulis) dengan zaman sejarah (telah mengenal aksara).

Masyarakat di tanah air ini mempunyai akar budaya yang beragam, dan semua ini harus bersatu. Persatuan itu adalah perkawinan nilai-nilai. Kita tidak dapat membangun masa depan tanpa mempertimbangkan akar. Karena akar itulah kekuatan kita. Melalui upaya rekonstruksi, dekonstruksi, meta konstruksi kita berusaha menggali dan memahami akar budaya untuk menghasilkan eksistensi (cultural existential) budaya bangsa.

Pemahaman budaya pada masa sekarang sering diterjemahkan sebagai kultur (Cultuur dalam bahasa Belanda berarti atau bermakna pertanian/budaya bercocok tanam). Kultur adalah sebuah pemahaman atau pengertian bangsa Belanda sebagai negara imperialis untuk mengkerdilkan aspek budaya pribumi (bangsa yang di jajah), sementara pemahaman kebudayaan yang sebenarnya merupakan satu perwujudan integrasi dari Agama, Negara, Pertahanan (Kasantikaan), Politik, Kebajikan, Kesenian, dan sebagainya (totalitas). Puncak kebudayaan yang dimaksud tersebut menjadi sebuah ideologi atau pandangan hidup (way of life), seperti: Mulla Sarwa Stiwa Danikaya, Panca Kucika, Panca Pandawa Ngemban Bumi, Pancasona, Dalima (Sunda Nu Lima), Pancaniti dan yang terakhir Pancasila. Ideologi sebagai dasar negara bangsa ini, tidak dapat ditemukan di berbagai negara lain.

Fenomena lain yang memprihatinkan, yaitu kebudayaan sering diidentikan dengan pariwisata yang sarat dengan perdagangan (aspek ekonomi), sehingga keluhuran nilai budaya para pendahulu (leluhur) bangsa ini menjadi tidak bermakna monumental lagi. Pada masa lalu kebijakan politik negara , merumuskan kebudayaan disatukan dengan pendidikan . Pada masa sekarang pendidikan diterjemahkan menjadi kelembagan yang ditandai oleh satu sertifikasi, yang notabene merupakan hasil adopsi dari pola pendidikan barat.

Mengutip buku Atmamihardja (1958: 8), Ptolemaeus menyebutkan, ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India, yang kemudian ahli- ahli ilmu bumi Eropa menggunakan kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India. Dari penelurusan kepustakaan, kata Sunda seperti dikatakan Rouffaer (1905: 16), merupakan pinjaman kata dari kebudayaan Hindu seperti juga kata-kata Sumatera, Madura, Bali, Sumbawa yang semuanya menunjukkan nama tempat.

Pada umumnya awal peradaban di dunia ini berada di sepanjang sungai yang dimulai dari peradaban maritim atau bahari – sungai, diantaranya:

1. Sungai Gangga (Kali Gangga – Kalingga)-Sungai Yamuna di India melahirkan peradaban Harappa Mohenjo Daro

  1. Sungai Yang Tze Kiang di Cina melahirkan peradaban Tiongkok
  2. Sungai Amazon- Sungai Misissipi di Amerika melahirkan peradaban Aztec,

    Inca, Maya, dan Machu Pichu

  3. Sungai Nil di Mesir melahirkan peradaban Mesir Kuno (Alexandria)
  4. Sungai Eufrat-Sungai Tigris melahirkan peradaban Sumeria – Akadia
  5. Sungai Citarum/Aki Tirem (asal kata dari Ti Rama- Misi Rama)-Sungai

    Cimanuk/Rawa
    Manuk – Prabu Sindula – melahirkan peradaban Sunda Besar

Sungai Citarum dan Cimanuk tersebut kemudian menjadi wilayah negara yang di sebut dengan Nagara Matarum, yang berasal dari kata: Medang atau Cimanuk dan Taruma Nagara atau Citarum (Ti Rama – Tirem). Medang kemudian diwariskan oleh Prabu Sindula kepada Dyah Galuh Kandiawati atau Ratu Dayang Sumbi, diteruskan oleh sang adik yaitu Jalu Kandiawan/ Dewata Cengkar/Suryawarman (atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan istilah diwalikeun – kawali). Selanjutnya generasi berikutnya dikenal dengan sebutan dinasti Medang atau Galuh. Taruma Nagara dari Pangeran Wisnugopa/Si Tumang (Resi Taruma Hyang) dan Ratu Dayang Sumbi kepada Pangeran Nandi Swara, yang kemudian menurunkan dinasti Sunda. Taruma Nagara dan Medang kemudian menurunkan kerajaan-kerajaan sebagai wujud pembawa misi negara. Kedua dinasti ini yaitu Sunda – Medang atau Galuh ,

kemudian mengembangkan sistem ketatanegaraan di dalam menjalankan misi Mulla Sarwa Stiwa Danikaya dalam dinasti:

1. Salaka Nagara th.78 M / 0 Tahun Saka. Awal dari tonggak sejarah kenegaraan di Nusa Jawa yang didirikan oleh:

1. Aji Saka I/Haji Raksa Gapura Sagara/Prabu Sungging Purbangkara, yang berkedudukan di Gunung Raksa pulau Panaitan

2. Aki Tirem/Manikmaya/Sang Hyang Watu Gunung/Sang Aki Luhur Mulya/Juru Labuan I, yang berkedudukan di Gunung Salak atau Guru Nu Agung di Salaka Nagara

2. Sri Bima/Taruma Nagara Th. 314 M / 236 Saka. Dipelopori oleh Pangeran Wisnugopa/ Resi Taruma Hyang (Si Tumang)/Pangeran Dewawarman. Didirikan oleh Pangeran Nandi Swara /Maharaja Purnawarman/Sang Guru Hyang/Sri Wijaya I/ Indra Giri/Aji Saka IV, berkedudukan di Leuweung Karaton Purwakarta.

3. Punta/Cupunagara/Indraprahasta/Puntanagara Th. 480 M / 402 Saka . Dipelopori oleh Maharaja Tarusbawa/Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa/ Sang Tri Trusta dan didirikan oleh Maharaja Sempakwaja, yang berkedudukan di Geger Sunten Gunung Tangkuban Parahu.

4. Narayana/Banjaran (Banjarnagara) Th. 600 M / 522 Saka. Dipelopori oleh Maharaja Purbasora, dan didirikan oleh Rakeyan Jamri. Berkedudukan di Denuh (Medang Kamulya’an/ Medang Kemulan) wilayah Ciamis Selatan (sekarang).

5. Madura – Suradipati atau Pajajaran Nagara Th. 1200 M / 1122 Saka. Dipelopori oleh Maharaja Kayuwangi berkedudukan di wilayah Medang Kamulan (Ciamis sekarang), didirikan oleh:

1. Maharajaresi Dharmawangsa/Twah Jaya/Sri Katon/ Jaya Katwang/Makkuta Wangsanagara

2. Maharajaresi Dharmasiksa/Anusapati/Kuwu Tumapel (Taruma Pamalayu)/Makkuta Wangsanagara Galunggung/ Prabu Guru Darmasiksa

Paramarta Sang Mahapurusa/ Sang Prabu Sanghyang Wisnu. Berkedudukan Lawang Gintung Pakujajar setelah dipindahkan oleh Hyang Buni Sora dari Kawali – Ciamis th.1357/1279 Saka, kemudian dipindahkan lagi ke Nagara Karta Rahayu/Pakuan Pajajaran oleh Wastukancana.

Struktur penerjemahan makna dari perjalanan sejarah budaya Sunda ini diantaranya mengacu pada disiplin ilmu Panca Curiga, yaitu:

  1. Sindir – Sampir yang bermakna Ungkapan yang tidak secara langsung atau Jejak
  2. Silib yang bermakna Perumpamaan atau Gambaran
  3. Siloka yang bermakna Simbol atau Metafora dan Persobifikasi

    (Perlambangan)

  4. Sandi tina simbul yang bermakna Kode atau petunjuk spesifik
  5. Sasmita yang bermakna Prediksi yang mendekati kebenaran berdasarkan

    pemahaman dan analisa

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com