Berita, Nasional, Pendidikan, Sosial Politik

Pancasila Adalah Teknologi, Bukan Ideologi

KBN – Jakarta – Salah satu kekeliruan terbesar bangsa ini adalah menganggap Pancasila sekedar semboyan atau kata mutiara. Padahal Pancasila berfungsi lebih dari itu, ujar Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional, Iskandarsyah Siregar, saat dihubungi oleh Kantor Berita Nasional pada Senin (9/1/2017). “Pancasila adalah teknologi. Bukan Ideologi. Artinya, Pancasila haruslah menjadi alat untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dampak buruk dari lalainya kita dalam memaknai Pancasila adalah negara ini berjalan dengan template dan ideologi lain sambil terkadang mengingat jika ada pantun berjudul Pancasila. Akibatnya carut marut dan kekacauan senantiasa muncul di negara ini. Padahal rumus menjalankan dan mengelola negara ini ada di Pancasila. Tinggal diterapkan dan dimplementasikan sesuai kasusnya”, ujar Iskandarsyah Siregar.

Iskandarsyah juga mengingatkan bahwa seharusnya semua aturan main di negera ini haruslah merujuk dan menjadikan Pancasila sebagai landasan teori. Termasuk undang-undang harus direvisi atau bahkan dianulir jika terindikasi bertentangan dengan Pancasila. “Tapi yang terjadi sekarang adalah kondisi yang sebaliknya. Ketika Pancasila mengamanahkan setiap warga negara wajib berTuhan yang esa dengan konsekwensi menjalankan ajaran agamanya secara komprehensif, bangsa ini malah diarahkan pada kehidupan sekuler dan menjauh dari nilai-nilai spiritual. Juga ketika Pancasila mengamanahkan agar pengambilan keputusan diambil dalam bentuk musyawarah oleh orang-orang yang diberikan Tuhan hikmah dan kebijaksanaan sebagai perwakilan rakyat, bangsa ini malah dijejali oleh demokrasi yang menyerahkan putusan-putusan penting pada sembarang orang yang belum tentu memahami konteks persoalan. Bisakah Anda bayangkan jika putusan memilih presiden juga dibebankan pada pecandu narkoba dengan nilai suara sama dengan seorang negarawan? That’s what we call one man one vote“, ujar Iskandarsyah menambahkan.

Pada akhir pembicaraan Iskandarsyah memperingatkan bahwa NKRI sebagai sebuah organisme yang lahir bangsanya terlebih dahulu baru kemudian membentuk negara, tidak akan sanggup ditaklukan, diinvasi, dan dijajah secara face to face dan terang-terangan. Mereka yang berniat jahat terhadap NKRI akan bersiasat untuk menghancurkan tatanan kehidupan bangsa ini dengan cara merusak ideologi dan norma yang sejatinya menjadi ruh negara ini. Baru kemudian mereka duduki negara ini secara perlahan. “Musuh bangsa ini menghancurkan negeriĀ ini dengan cara menghancurkan nilai-nilai intrinsik bangsa Indonesia. Yaitu dengan memasukan demokrasi sebagai pedoman. Gotong royong dihancurkan oleh demokrasi yang menganut sistem persaingan. BerkeTuhanan dihancurkan demokrasi dengan materialismenya. Kemuliaan hikmah dan kebijaksanaan pun digerus oleh kapitalisme yang menasbihkan uang sebagai modal utama berdemokrasi. Jika bangsa ini tak segera sadar, mungkin Tuhan pun akan habis sabar pada bangsa ini.”, pungkas Iskandarsyah menegaskan.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com