Berita, Nasional, Sosial Politik

Kapustanas: Miskoordinasi Antar Lembaga Negara Lebih Berbahaya Dari Ribuan Senjata

KBN – Jakarta – Rekaman suara Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo pada saat menghadiri silaturahmi dengan para purnawirawan di Mabes TNI Cilangkap masih mengundang kontroversi. Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional, Iskandarsyah Siregar, menyatakan bahwa ada hal yang jauh lebih berbahaya dari isu ribuan senjata yang tidak jelas duduk perkaranya. “5000 atau 500 bahkan 20000 senjata api beredar tanpa jelas siapa tuannya dan untuk apa penggunaannya adalah hal yang sangat berbahaya. Tapi tidak jelasnya koordinasi antar lembaga negara adalah hal yang jauh lebih berbahaya bagi keamanan dan ketahanan negara ini.”, ujar Iskandarsyah saat menjadi narasumber pada satu televisi swasta nasional, Selasa (3/10/2017) di Epiwalk Epicentrum, Jakarta.

Iskandarsyah menegaskan bahwa ketidak sinkronan informasi yang disampaikan oleh para menteri atau pihak kepolisian adalah indikasi tidak baiknya koordinasi dan kerjasama tim antar lembaga negara. “Ini sangat berbahaya. Anda bisa bayangkan kalau situasi ini adalah situasi perang. Indonesia negara kepulauan yang luasnya seperti ini. Dan yang bermain sebagai lembaga yang terkait dengan ketahanan dan keamanan negara ada banyak sekali. TNI dengan beragam matra pertahanannya. Begitupun Polri. Belum lagi BIN dan BAIS sebagai intelejen. Anda bisa bayangkan kalau informasi yang diterima dan disampaikan berbeda dan saling bertolak belakang? NKRI yang jadi korban.”, tegas Iskandarsyah.

Untuk itulah Iskandarsyah berharap Presiden Joko Widodo selaku pimpinan tertinggi lembaga negara turun tangan dan mengklarifikasi segala carut marut isu ini. “Apa yang dilakukan oleh Panglima TNI sudah tepat. TNI sebagai pemegang amanah matra pertahanan memang harus memiliki sense of awareness tinggi dan selalu siap untuk segala situasi. Dan Jenderal Gatot pun sudah bersikap benar dengan tidak bicara dulu terkait pidato tertutupnya di hadapan para purnawirawan karena menimbang variabel kerahasiaan negara dan juga karena beliau paham posisinya sebagai pejabat negara. Untuk itulah saya sangat berharap Presiden Joko Widodo dapat bicara dengan detil dan konkret terkait masalah ini. Karena isu ini sudah terlanjur bersar dan menyebar di publik. Jangan sampai semakin liar dan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar.”, jelas pria yang akrab dipanggil bang Anggi ini.

Disamping itu, Iskandarsyah juga mengingatkan kepada Panglima TNI bahwa sejatinya TNI adalah tentara rakyat. Maka TNI harus bekerja dan bertindak demi sebesar-besarnya kebaikan rakyat. “TNI itu berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitupun TNI telah bersumpah akan setia pada NKRI yang berdasarkan Pancasila. Maka wajib hukumnya TNI itu berpihak dan berjuang habis-habisan untuk rakyat Indonesia dan Pancasila. Siapapun lawannya. Apapun konsekwensinya. Jangan sampai TNI berkhianat kepada bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai falsafah berbangsa dan bernegara.”, pungkas Iskandarsyah.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com