Berita, Nasional, Pendidikan Kebudayaan, Sosial Politik

Kapustanas: Menurut Pancasila, Pejabat Negara Adalah Pelayan Rakyat. Jangan Sombong!

KBN – Jakarta – Merespon seringnya pejabat negara memunculkan statement, wacana, atau kebijakan yang tidak berterima di masyarakat, Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional, Iskandarsyah Siregar, menegaskan bahwa pemerintah yang berisi para pejabat negara merupakan abdi rakyat yang bertugas melayani kepentingan-kepentingan rakyat sesuai dengan visi berbangsa dan bernegara yang terdapat dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. “Jangan Anda bilang pemerintah yang memberi bantuan pada rakyat. Harta itu milik rakyat. Anda hanya harus mengelola, itupun harus memberi keuntungan pada rakyat. Kalau tidak sanggup ya mundur saja.”, tegas Iskandarsyah pada saat menjadi Keynote Speaker dalam acara bertema Komunikasi Efektif Pejabat Publik Dalam Perspektif Pancasila, di RedTop Convention Center, Pecenongan, Jakarta, Selasa (1/5/2018).

Ia menyesalkan beberapa pernyataan dan kebijakan pemerintah yang menyinggung bahkan menyakiti perasaan rakyat. “Anda boleh berkilah apapun. Nyatanya masih ada orang yang sulit mendapatkan makanan, fasilitas kesehatan, dan akses pendidikan. Jangan Anda sembarangan bicara hanya untuk membela diri. Jangan orang lapar Anda suruh diet. Jangan orang tidak mampu beli cabe Anda suruh tanam sendiri. Jangan Anda janji ekonomi meroket tapi yang ada malah terpuruk. Jangan banyak alasan. Kewajiban Anda mewujudkan kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan sosial. Kalau tidak sanggup ya minta maaf saja. Kalau perlu menyerah dan mundur. Itu lebih terhormat. Saya duga banyak orang yang lebih Anda, hanya saja saat ini tandatangannya tidak laku.”, tutur dosen Pancasila, Linguistik, dan Kewirausahaan ini.

Iskandarsyah juga meminta politisi, pemerintah, dan para anggota dewan perwakilan rakyat jangan sibuk berwacana. Yang jadi ukuran adalah kebaikan yang dirasakan rakyat. Bukan pendapat subyektif dari mereka yang berada pada elit kekuasaan. “Gaduh politik mungkin mengasyikan buat para politisi. Mungkin itu dianggap bagian agenda politik. Tapi ingat, di saat para politisi berebut kue kekuasaan dan saling mengejar kepentingan politiknya, ada rakyat yang sedang kelaparan, menangis menahan sakit karena tidak sanggup mengakses layanan kesehatan, dan semakin jauh dari cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa karena tidak mampu bersekolah.

Pada akhir paparannya, Dosen yang pernah mengajar di Cina dan Rusia ini mengingatkan bahwa kepastian akan perhitungan Tuhan dan kematian itu adalah keniscayaan. Jadi ketika mendapat kepercayaan dan kedudukan, berbuatlah semaksimal mungkin. Jika tidak, eksekusi Tuhan bagi para pendosa adalah pasti. “Bersyukur itu memaksimalkan potensi yang ada. Potensi yang Tuhan beri kepada Anda sekarang adalah kedudukan dan kemampuan membuat kebijakan. Maka gunakanlah potensi yang sementara tersebut sebaik-baiknya. Atau ingatlah, azab Tuhan amatlah pedih.”, tegas Iskandarsyah memungkasi.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com