Berita, Internasional, Nasional, Sosial Politik

Kapustanas: Indonesia Dalam Skenario Balkanisasi Oleh Arab, Amerika, Dan Cina

KBN – Jakarta – Kisruh freeport mewarnai pertarungan Geopolitik Amerika dengan Cina di Indonesia. Setelah sebelumnya drama Laut Cina Selatan yang menjadi pertempuran memperebutkan wilayah yang bernilai ribuan triliyun, kini pengelolaan tambang di tanah Papua menjadi kontestasi teranyar antara Amerika dengan Cina. Di saat Amerika dan Cina masih asyik bertarung di Indonesia, tiba-tiba muncul Arab saudi untuk ikut dalam kontestasi. “Arab saudi yang dipimpin langsung oleh Raja Salman datang ke Indonesia dengan membawa logistik melimpah yang jelas akan memberi efek gentar terhadap Amerika dan Cina. Ini pasti akan mengubah peta permainan. Keadaan ini bertendensi mengarah pada balkanisasi oleh mereka terhadap Indonesia. Korbannya jelas rakyat Indonesia.”, ujar Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional, Iskandarsyah Siregar, saat dihubungi Kantor Berita Nasional di Jakarta.

Iskandarsyah menggambarkan bahwa kondisi ini akan mengarah pada 3 skenario, yaitu: 

1. Salah satu dari ketiga negara ini akan mendominasi penguasaan terhadap Indonesia seperti Amerika dulu atau Cina pada saat ini di Indonesia; 

2. Terjadi kesepakatan antara ketiga negara ini untuk membagi Indonesia menjadi 3 potongan kue. Kemungkinan ini yang akan paling menyakitkan Indonesia karena bukan hanya Indonesia akan terjajah dan tak berdaulat, tetapi Indonesia akan terpecah-pecah. Inilah penghianatan terbesar bangsa ini terhadap perjuangan para pahlawan; 

3. Kemungkinan ke-3 ini adalah pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia, yaitu bangsa Indonesia bangkit melawan. Membebaskan diri dari penjajahan. Berdaulat di tanah airnya sendiri dan mengelola Indonesia demi kebaikan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pilihan ini memang pilihan yang paling sulit diwujudkan dan membutuhkan perjuangan. Syarat utama untuk mewujudkan hal ini adalah bangsa Indonesia harus dipimpin oleh anak bangsa Indonesia yang memahami kewajibannya untuk mewujudkan Indonesia yang berkeTuhanan yang esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab , bersatu, bermusyawarah untuk mufakat, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Iskandarsyah juga berasumsi bahwa nasionalisme bangsa Indonesia sedang diuji saat ini. Yang terjadi saat ini adalah kebencian terhadap Cina mendorong simpati terhadap Amerika. Di sisi lain, kebencian terhadap Islam mendorong dukungan radikal terhadap penjajahan oleh Cina di Indonesia. Kehadiran Arab saudi di Indonesia juga menciptakan sebuah pola cinta buta baru bagi masyarakat Indonesia yang selama ini merasakan kejahatan sosial-ekonomi Amerika dan Cina di tanah airnya. “Tanpa mereka sadari, keadaan sebenarnya tidak pernah berubah. Status Indonesia tetap terjajah dan tidak berdaulat. Dan kalau kita merelakan keadaan ini tetap begini, maka kita harus siap menanggung beban sejarah sebagai penghianat bangsa. Anak cucu kitalah yang akan menanggung resiko menjadi budak di negaranya sendiri.”, tutup dosen ketahanan nasional, entrepreneurship dan linguistik ini.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com