Berita, Nasional, Pendidikan Kebudayaan, Sosial Politik, Umum

Kapustanas: Baju Merah Putih Belum Tentu Hatinya Merah Putih, Buktikan Dengan Pembelaan!

KBN – Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional, Iskandarsyah Siregar, meminta kepada segenap bangsa Indonesia untuk mencoba memahami, mengambil pelajaran, dan menghargai momentum Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928. Ia menjelaskan bahwa bisa jadi para pemuda saat itu marah jika melihat apa yang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini. “Dulu mereka rela dengan ikhlas melepaskan kepentingan untuk memperjuangkan persatuan. Bagaimana sekarang? Demi meraih kepentingan pribadi atau kelompok malah mengorbankan persatuan. Sadarlah bangsa Indonesia! Dulu kita melawan penjajah dengan persatuan. Sekarang kita diserang penjajah dengan cara memecah persatuan.”, tegasnya saat ditemui di Jakarta, Minggu (28/10/2018).

Iskandarsyah menggambarkan bahwa dulu anak bangsa bersepakat menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Pun demikian para raja, sultan, dan pemangku adat melepaskan sekat kekuasaan teritorial demi menyatukan Indonesia. Sekarang keadaannya malah jauh berbeda. “Apakah pemekaran daerah dan otonomi daerah sesuai dengan cita-cita Sumpah Pemuda? Bagaimana pula dengan bahasa Indonesia yang semakin tidak terawat dan terlindungi di tengan bahasa dan bahkan huruf asing menguasai ruang-ruang publik di tanah air ini. Bahkan tidak jarang terlihat sebuah bangunan yang tertulis dengan bahasa dan huruf asing tanpa ada bahasa Indonesia di sana. Jangan bilang ini paranoia semata. Terbukti bahasa Indonesia menjadi 1 dari 3 elemen perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.”, jelas pria yang pernah mengajar di Departemen Of Indonesia Study di Moscow State University ini.

Pada akhirnya Iskandarsyah mengatakan bahwa menggunakan baju merah putih belum berarti sudah berhati merah putih. Penjajah pun bisa jadi berbaju merah putih. Yang berteriak NKRI harga mati pun bisa jadi mereka yang bekerja untuk kehancuran Indonesia. Semua harus dibuktikan dengan pembelaan terhadap bangsa sendiri. “Mereka yang memudahkan kepentingan asing di atas kepentingan bangsa sendiri pastilah bukan nasionalis. Mereka yang tunduk menghamba pada asing pastilah akan bekerja untuk kepentingan asing. Dan sampai kapanpun, Indonesia akan selalu menarik untuk dijajah dan direbut. Tugas anak bangsa sejatilah untuk sekali lagi berjuang mengorbankan jiwa, raga, dan harta demi menjaga dan merawat hadiah Tuhan Yang Maha Esa yang teramat berharga untuk dikorbankan ini.”, pungkas Iskandaryah.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com