Berita, Featured, Nasional, Pendidikan, Sosial Politik

Fenomena Kepemimpinan Ulama

Jakarta –  Beberapa waktu terakhir Indonesia dipertunjukan akan sebuah pemandangan yang telah lama tidak terjadi di negeri ini. Fenomena tersebut adalah sebuah fenomena kepemimpinan kaum ulama. 

Saat ini nampak jelas bahwa para ulama muncul sebagai sosok ideal di mata masyarakat yang dapat dijadikan sebagai rujukan dan lokomotif dalam menentukan arah pandangan dan pergerakan sosial politik berbangsa dan bernegara.

Saat ini tingkat kepercayaan masyarakat pada ulama sedang tinggi-tingginya. Bahkan saat ini terlihat jelas bahwa para ulama jauh lebih mampu menyerap aspirasi, mengorganisir, dan mengarahkan masyarakat menuju titik ideal jauh lebih baik dari para politisi, praktisi, apalagi pejabat negara. Para ulama dinilai memiliki kemampuan dan kemauan dalam menganalisa, memperbaiki, dan meremedialisir kesimpangsiuran dan kekeliruan yang terjadi di negara ini. Hal tersebut ditengarai karena ulama dinilai memiliki kualitas tinggi dalam kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Keseimbangan ketiga faktor kecerdasan tersebut yang membuat para ulama dapat menganalisa dan menyelesaikan segala permasalahan di negara ini secara holistik. Ditambah lagi kepribadian dan penampilan ulama yang simpatik dan good looking membuat pesona para ulama ini semakin menjerat hati masyarakat.

Standarisasi masyarakat tentang variabel ideal pembentuk sosok pemimpin pun bergeser mengimitasi sosok ulama. Sosok pemimpin yang dianggap terbaik saat ini adalah sosok yang dekat dengan agama, memiliki kualitas kesholehan yang baik, dan menunjukan pembelaan kepada agama.

Fenomena ini menimbulkan sebuah new curiousity di dalam masyarakat. Apakah sudah saatnya menyerahkan kepemimpinan negara ini kembali kepada para ulama? Setidaknya ada 2 hal yang dapat mengamini hipotesa tersebut. Pertama, ulama memimpin bangsa Indonesia bukanlah hal yang baru. Para ulama sudah teruji dalam memimpin negeri ini. Bahkan yang memimpin pergerakan perjuangan kemerdekaan ini adalah para ulama. Perlawanan kaum ulama terhadap kolonial pada abad 16, perang sabil yang merupakan perlawanan ulama dan petani terhadap sistem tanam paksa 1830, perang Diponegoro 1825-1830, fatwa jihad KH Hasyim Ashari pada 1945, hingga sejarah kemenangan bangsa Indonesia melawan Inggris pada agresi militer 1949 juga dipimpin oleh para ulama. Bahkan TNI sendiri terbentuk dari Hisbullah yang merupakan cikal bakal TKR BKR yang kemudian membentuk dalam wujud TNI. Kedua, ulama di Indonesia saat ini dinilai memiliki kecakapan politik dan administrasi yang handal. Terbukti dari kualitas pendidikan para ulama yang didominasi level Doktor dan Profesor, juga dilihat dari kenyataan para ulama saat ini rata-rata berhasil memimpin organisasinya yang terbukti berkembang secara ekonomi dan pengkaderan.

Kembali kepada pertanyaan, apakah kaum ulama siap memimpin kembali negera ini menuju kesebuah peradaban bangsa yang ideal? Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah bangsa dan negara ini siap dipimpin kembali oleh para ulama? Karena konsekwensi logis kepemimpinan oleh ulama adalah hilangnya kesempatan para politisi busuk dan bohir-bohir jahat yang selama ini menguasai pengelolaan negara untuk tetap eksis. Dan tentu saja aliansi mereka di eksekutif dan legislatif akan turut menderita kehilangan “kue basah” yang selama ini turut mereka nikmati bersama.

Red.