Berita, Hukum Hankam, Kesehatan, Nasional, Pendidikan Kebudayaan, Sosial Politik, Umum

Orang Gila Ikut Pilih Presiden, Kapustanas: Belum Jelas Juga Apa Itu Demokrasi?

KBN – Belakangan banyak kontroversi yang muncul di tanah air Indonesia. Mulai dari kasus hukum yang terindikasi tebang pilih, hingga aturan-aturan yang dianggap bertentangan dengan kemajuan akal. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional (Kapustanas) Iskandarsyah Siregar, menegaskan bahwa dampak negatif dari demokrasi semakin terbukti dan nyata terlihat. “Orang gila diminta¬†memilih presiden? Yang lebih gila siapa jadinya? Tuhan saja mengingatkan jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran. Tapi inilah konsekwensi berdemokrasi. One Man One Vote. Satu orang satu suara. Tidak peduli orang bodoh atau orang pintar. Orang jahat atau orang baik. Orang gila atau orang waras juga dianggap sama saja. Tinggal mana yang lebih banyak. Yang pintar, baik, dan waras atau bodoh, jahat, dan gila. Terima lah nasib ini jika memang ingin utuh berdemokrasi.”, tegas Iskandarsyah.

Iskandarsyah menggambarkan bahwa sebenarnya sejak dulu juga tidak ada larangan orang gila untuk masuk bilik suara untuk mencoblos. “Memangnya ada larangan orang dungu tidak boleh pilih presiden? Begitupun untuk orang gila, meski dulu harus bawa rekomendasi dokter. Tapi itu bagi pasien yang terdeteksi. Yang tidak ya bebas saja. Kita saja mungkin yang tidak sadar kalau ada orang gila yang pernah pilih presiden.”, jelas Iskandarsyah.

Dosen dan peneliti Ketahanan Nasional, Pancasila, dan Linguistik ini menjelaskan bahwa sejak demokrasi berkuasa di tanah air ini, perilaku bangsa ini menjadi semakin aneh dan disorientasi. Untuk itulah bangsa ini harus sesegera mungkin kembali pada Pancasila agar bisa segera menyelematkan diri. “Pancasila tidak bisa dicampur dengan demokrasi. Pancasila itu memberikan amanah pada mereka yang memiliki hikmah dan kebijaksanaan untuk memimpin dan mewakili rakyat. Sedangkan demokrasi mengagungkan¬†One Man One Vote yang berarti masing-masing orang memimpin dan memiliki hak setara. Termasuk orang gila tadi. Tinggal kita yang pilih. Mau pakai hati dan akal sehat. Atau mau mengikuti perilaku suatu kaum agar tergolong kaum itu. Kaum apapun itu, termasuk kaum barbar dan kaum gila.”, pungkasnya.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com