Berita, Nasional, Pendidikan Kebudayaan, Sosial Politik

Soal Perebutan Kursi Ketua DPR & Pemilu 2019, Kapustanas: Rakyat Sedang Susah, Untuk Apa Bicara Itu?

KBN – Jakarta – Disinggung mengenai kasus korupsi Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, perebutan kursi ketua DPR, dan kaitannya dengan tahun politik menjelang Pemilu 2019, Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Universitas Nasional, Iskandarsyah Siregar, menyatakan sebenarnya sama sekali tidak tertarik untuk memikirkan atau berkomentar tentang hal tersebut. Ia merasa bahwa dalam kondisi rakyat yang sangat prihatin saat ini, ditambah lagi dengan isu ancaman ketahanan nasional negara, sangatlah tidak etis masyarakat khususnya para politisi asyik gaduh terkait hal tersebut. “Rakyat sedang susah, terjepit dengan situasi dan kondisi. Ini fakta. Kondisi keamanan dan ketahanan nasional pun tidak bisa disebut baik-baik saja dengan isu masuknya warga asing ilegal, persoalan senjata liar, separtisme, persekusi provokasi, dan ancaman lepasnya sejumlah aset nasional. Lalu apa manfaatnya kita bicarakan tentang perebutan tahta politik praktis? Saya hingga kini pun masih belum jelas tentang manfaat yang diambil rakyat Indonesia dari ratusan triliyun yang dihabiskan untuk pestanya kaum demokrasi. Saya membayangkan andai saja ratusan triliyun tersebut dihabiskan untuk membuat sekolah dan rumah sakit gratis saja.”, tegas Iskandarsyah saat dihubungi Kantor Berita Nasional di Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Iskandarsyah pun mempertanyakan kredibilitas dan integritas orang-orang yang mengaku wakil rakyat tersebut terkait dengan dugaan penerimaan uang hasil korupsi yang merata di seluruh fraksi partai di DPR. “Jika betul seluruh fraksi menerima uang hasil korupsi E-KTP, jadi partai mana yang mengaku bersih? Lalu apa salah jika ada yang menggeneralisasi seorang anggota partai dengan keseluruhan anggota partainya? Lalu tahun-tahun depan ini rakyat Indonesia kembali didesak untuk berlelah-lelah menyelenggarakan pesta pora demokrasi untuk mereka kaum partai politik. Bukankah ini sebuah ketidakwarasan?, tutur Iskandarsyah.

Terlebih lagi, Iskandarsyah mempertanyakan apakah bangsa Indonesia pernah menang dalam demokrasi. “Kapan bangsa ini akan menang dalam sebuah sistem yang bukan disiapkan dari, untuk, dan oleh bangsa ini sendiri? Apa kita masih abai dengan peran para kapitalis dan liberalis dalam menentukan pemenang pada pesta demokrasi? Apa masih belum cukup juga kegaduhan yang ditimbulkan oleh pesta demokrasi? Kenapa bangsa ini tidak menyederhanakan dan mengoptimalkan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan kembali kepada Pancasila saja? Pancasila jelas mengamanahkan musyawarah dan perwakilan dalam pengambilan keputusan. Sangat berbeda dengan demokrasi yang memaksa tiap orang tidak perduli kapasitas dan kualitas personanya untuk mengambil keputusan penting seperti memilih presiden. Dan disitulah suara seorang Profesor akan disejajarkan dengan seorang pecundang. Sama-sama satu suara. Dan kita bisa menunggu kehancuran jika suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya”, jelas Iskandarsyah.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com