Berita, Kesehatan, Nasional

Terkait Kematian Bayi Deborah, RS Mitra Keluarga Kalideres Terancam Dicabut Izinnya

KBN – Jakarta – Terkait dengan kasus kematian bayi, Tiara Deborah Simanjorang, yang melibatkan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres Jakarta Barat, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dan Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) menelusuri duduk perkara persoalan tersebut.

Menurut Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes Bambang Wibowo, berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit dan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, rumah sakit wajib melayani pasien yang memerlukan pelayanan kegawatdaruratan. RS tak boleh menarik uang muka. Ia pun menegaskan bahwa jika RS Mitra Keluarga Kalideres terbukti mengabaikan aturan tersebut, maka sanksi akan dijatuhkan terhadap rumah sakit tersebut. “Di undang-undang juga disebutkan apabila melanggar bisa mendapat sanksi, baik teguran, tertulis, bahkan pencabutan izin.”, jelas Bambang seperti dikutip dalam tayangan sebuat televisi.

Diketahui sebelumnya persoalan administrasi yang diterapkan di RS Mitra Keluarga Kalideres yang berbelit dan menyulitkan berujung pada tidak tertolongnya nyawa bayi Deborah. Selama 7,5 jam bayi Deborah terkatung-katung sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir, pukul 10.00 WIB, Minggu (3/9/2017).

Peristiwa menyedihkan itu dimulai saat bayi Deborah mengalami sesak napas pada pukul 02.30 WIB pada hari yang sama. Deborah yang terus batuk membuat kedua orangtuanya, Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, langsung membawa Deborah ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres.

Saat itu dokter jaga, dr. Iren, meminta Deborah dibawa ke ruang perawatan intensif khusus bayi (pediatric intensive care unit/PICU) agar perawatannya maksimal. Henny dan Rudianto diminta membayar uang muka perawatan PICU Rp19,8 juta.

Dengan permintaan yang mendadak tersebut, mereka menyatakan ketidaksanggupan membayar karena tak memiliki uang sejumlah itu. Keduanya lantas menunjukkan kartu BPJS Kesehatan berharap bayi Deborah ditangani terlebih dulu. Namun, RS Mitra Keluarga Kalideres menolak permintaan tersebut dengan alasan belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Meski demikian Henny dan Rudianto yang hanya memiliki uang Rp5 juta memohon agar anaknya ditangani. Mereka berjanji melunasi uang yang diminta begitu matahari terbit.

Pada jam 06.00 WIB, kondisi Deborah semakin menurun. Ia masih di ruang IGD. Selama 17 menit berselang, Henny mempublikasikan kegalauannya di akun Facebook. Beberapa temannya merespons. Ada yang menyarankan dibawa ke RS Tangerang. Henny juga berselancar mencari rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS dan memiliki fasilitas PICU. Ia juga meminta sahabatnya, Iyoh, untuk mengecek ke Rumah Sakit Koja.

Pukul 09.00 WIB, dr. Irfan–dokter jaga pengganti dr. Iren–menemui Henny-Rudianto. Mengabarkan jika kondisi Deborah semakin memburuk. Wajah Deborah pucat dan badannya dingin. Sejam berselang, Deborah pun mengembuskan napas terakhir.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com