Berita, Internasional, Nasional, Pendidikan, Sosial Politik

Kapustanas: Kekejaman Terhadap Rohingya Sejatinya Adalah Bagian Ujian Bagi Pancasila

Pancasila

Iskandarsyah Siregar – Pusat Studi Ketahanan Nasional

KBN – Jakarta – Perlakuan sadis yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat militer Myanmar terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya mendapat kecaman luas dari masyarakat dunia. Demikian pula di Indonesia. Dari tokoh-tokoh nasional hingga masyarakat umum bersedih, mengecam, dan berteriak lantang  atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Rakhine Myanmar tersebut.

Menurut Kepala Pusat Studi Ketahanan Nasional Iskandarsyah Siregar, khusus bagi Indonesia, persoalan ini merupakan ujian pengimplementasian Pancasila dalam kehidupan. Ia menilai sikap yang diambil oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia akan dijadikan nilai ukur seberapa konsisten kita menjadikan Pancasila sebagai falsafah dan teknologi berbangsa dan bernegara. “Seorang Pancasilais pasti akan menjadikan dirinya manusia yang beradab. Dan seorang yang beradab pasti akan sedih, marah, dan bertindak semaksimal mungkin untuk menghentikan segala bentuk kejahatan kemanusiaan.”, ujar Iskandarsyah saat dihubungi Kantor Berita Nasional, Senin (4/9/2017) di Jakarta.

Iskandarsyah menilai genosida yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat militer Myanmar terhadap etnis Rohingya merupakan sebuah bentuk pemusnahan peradaban. Ia juga menyatakan bahwa ada motif perebutan kekuasaan terhadap sumber daya alam (SDA) disana. “Daerah Semenanjung Rakhine dilaporkan memiliki cadangan sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 miliar barel minyak. Disana sudah terbangun instalasi pipa gas dan pipa minyak dari Kyauk Phyu ke perbatasan Cina sepanjang 803 km. Informasi yang muncul adalah Cina melalui perusahan CNPC dan Amerika dengan Win Resources dan Chevronnya memang berniat untuk menguasai teritori Rakhine. Jadi jelas ada faktor ketamakan dan kerakusan disini.”, jelas Iskandarsyah menggambarkan.

Terakhir, Iskandarsyah mengingatkan bahwa dunia akan melihat dan sejarah akan mencatat apapun sikap yang Indonesia terhadap Rohingya saat ini. Ia menganggap kecaman dan soft diplomacy saja tidak cukup dalam menyikapi hal ini. “Tidak ada sejarahnya ketamakan Cina dan Amerika luluh karena kecaman. Indonesia harus tegas sebagai bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila. Pancasila itu harus dapat memberikan rahmat bagi seluruh alam. Jadi kebaikan bangsa ini harus diimplementasikan menembus ruang dan waktu. Jika tidak, berarti slogan Saya Indonesia Saya Pancasila hanyalah pencitraan dan basa-basi semata.”, tegas Iskandarsyah.

Red.

Kantor Berita Nasional ( KBN )

kantorberitanasional.com